Hibah Energi Terbarukan Untuk Komunitas merupakan program yang ditujukan untuk merancang, mengembangkan, membangun serta mengoperasikan proyek energi terbarukan berbasis masyarakat (non-jaringan PLN). Proyek ini bertujuan memfasilitasi masyarakat daerah terisolasi yang kesiulit memiliki akses listrik yang kurang memadai dan tak terjangkau oleh PLN. Fasilitas ini akan dimiliki, dikelola, dan dipelihara oleh masyarakat pedesaan.

PROSES SELEKSI

Dokumen terkait hibah ini yang dapat diunduh:

PENERIMA HIBAH

  1. PT Sky Energy Indonesia
    Sky Energy akan membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 598 kWp di pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pembangkit ini akan menyalurkan listrik untuk 3.317 orang dalam 784 rumah tangga, yang sebelumnya hanya mendapat listrik sekadarnya dari generator diesel berkapasitas 150 kW. Pembangunan dijadwalkan dimulai pada Mei 2017 dan pembangkit listrik akan dioperasikan pada Desember 2017.
  1. PT Akuo Energy Indonesia
    Akuo Energy akan membangun pembangkit listrik tenaga surya kapasitas 1,2 MW di Berau, Kalimantan Timur, yakni di desa Merabu, Long Beliu, dan Teluk Sumbang. Akuo juga akan memperbaiki pembangkit mikrohidro berkapasitas 30 kW. Pembangkit listrik yang dibangun di ketiga desa itu akan menerangi sekitar 400 rumah tangga, beserta sekolah dasar, Puskesmas, Kantor Desa, dan penerangan jalan. Sebelumnya, masyarakat hanya mendapatkan listrik selama 4 jam sehari dari generator diesel yang mahal dan tak ramah lingkungan. Jika pembangkit energi terbarukan telah beroperasi, sebagian besar penduduk akan mendapatkan listrik 24 jam sehari.
  1. Charta Putra Indonesia
    Pelaksana hibah ini akan membangun 700 kW pusat tenaga listrik biomassa di Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Sumber tenaga listrik ini berasal dari bambu dan akan menyediakan sumber listrik kepada sekitar 1200 rumah tangga, 35 usaha lokal dan fasilitas publik di Desa Madobag, Matotonan dan Saliguma, Kabupaten Mentawai. Masyarakat dan PT Charta Putra Indonesia membentuk PT Kemakmuran Hijau Mentawai yang akan mengoperasikan, memelihara dan menjual listrik kepada masyarakat di desa tersebut. Proyek ini dijadwalkan selesai pada Februari 2018.
  1. Konsorsium Anekatek
    Proyek ini bertujuan mengembangkan sistem pembangkit listrik tenaga surya dengan total kapasitas terpasang 493 kWp yang akan menyokong 909 rumah tangga di 11 lokasi di 5 desa di Kabupaten Sumba Timur dengan jalur distribusi sejauh 48 km. Kegiatan proyek ini terdiri dari perancangan sistem listrik unik yang melibatkan tiang penyangga utilitas di seluruh desa dengan panel surya terpasang di atas tiang-tiang tersebut. Ini akan mengurangi kebutuhan lahan secara signifikan dibandingkan dengan sistem panel surya tradisional dan sangat meningkatkan masalah keamanan pada desain grid panel surya tradisional. Proyek ini akan menerapkan sistem pengukuran cerdas (smart-metering), yang mengharuskan pengguna menerapkan pra-bayar melalui ponsel mereka. Meteran terhubung ke jaringan seluler dan dipantau secara online melalui paket perangkat lunak manajemen smart-metering. Sistem ini akan menghindari pengguna akhir yang menunggak pembayaran, hal yang sering terjadi dalam proyek energi terbarukan di pedesaan.
  1. PT Puriver Indonesia
    PT Puriver Indonesia akan membangun 4 pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 800 kWp di 5 desa di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pembangunan tersebut dilengkapi pula dengan konstruksi jaringan dan pemasangan listrik di 1.029 rumah dan 12 sekolah. Kelima desa itu ialah Kahianga, Wawotimu, Kulati, Dete, dan Lamanggau. Pembangkit energi terbarukan ini akan menggantikan generator diesel yang mahal dan tak ramah lingkungan yang kini dipakai oleh warga.