SIARAN PERS

Akses Listrik Bersih 500 kWp untuk Desa-Desa Terpencil di Sumba Timur

AKSES LISTRIK BERSIH 500 KWP UNTUK DESA-DESA TERPENCIL DI SUMBA TIMUR

Ditayangkan : 11 April 2018

(Waingapu) 11 April 2018 – Masyarakat di lima desa di Sumba Timur kini dapat mengakses listrik bersih dari sistem solar photovoltaic atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kelima desa tersebut adalah Desa Tawui, Lailunggi, Praimadita, Tandula Jangga, dan Praiwitu. Diresmikan hari ini oleh Wakil Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, PLTS berkapasitas total 492 kWp tersebut akan menyediakan akses listrik bagi 852 rumah tangga dan 57 fasilitas umum. Sebanyak 11 panel surya mikrogrid telah dipasang di lima desa tersebut.

Proyek ini didanai oleh hibah senilai 9,2 juta dolar AS (setara dengan Rp 126 miliar) sebagai bagian dari Hibah Compact dari Millennium Challenge Corporation (MCC), lembaga di bawah naungan Pemerintah Amerika Serikat. Di samping itu, proyek ini juga didukung oleh kontribusi masyarakat dari lima desa berupa tanah, tanaman produktif, dan sumbangan uang melalui dana desa.

“Kepemilikan dan peran serta masyarakat dalam mengelola PLTS sangat penting untuk memastikan keberhasilan proyek di Sumba ini,” ujar Jonathan Richart, Deputi Wakil Presiden MCC yang membidangi Infrastruktur, Lingkungan, dan Sektor Swasta. “MCC berinvestasi untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Kini, dengan akses listrik yang meningkat, masyarakat semakin berdaya untuk memanfaatkan kemajuan yang ada dan menciptakan peluang-peluang baru.”

Selain membangun fasilitas, proyek ini juga menyediakan pelatihan ekonomi bagi lebih dari 250 perempuan dan laki-laki di desa. Pelatihan ini mencakup kewirausahaan, manajemen, pertanian, dan penambahan nilai komoditas, misalnya mengolah makanan menggunakan bahan-bahan lokal.

Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, proyek ini telah membentuk lembaga Special Purpose Vehicle (SPV), yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh masyarakat (51%). Masyarakat akan memiliki PLTS ini melalui sebuah PT yang terdiri dari lima Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lima BUMDes telah didirikan, dan 52 anggota manajemen BUMDes telah mendapatkan pelatihan dan mentoring di bidang manajemen dan kewirausahaan.

“Model pengelolaan SPV dengan keterlibatan BUMDes telah diidentifikasi sebagai bentuk yang paling sesuai untuk pengelolaan jangka panjang sistem ini, dengan mempertimbangkan ketentuan struktural dari proyek MCC dan sumber daya yang tersedia untuk mengimplementasikan proyek ini. Dengan menggunakan model ini, masyarakat memiliki peran untuk berpartisipasi dalam proyek ini untuk mewujudkan hasil yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Architrandi Priambodo, Team Leader Bidang Non-Konstruksi di Castlerock Consulting, anggota konsorsium Anekatek Consultants, Castlerock Consulting, and SEI.

Architrandi menyimpulkan, “Pendekatan ini membuat kami mampu mewujudkan tujuan utama proyek MCC, yakni mempercepat pembangunan energi terbarukan berskala kecil yang mencakup aspek kepemilikan partisipatif, pengelolaan, pemeliharaan, dan operasional oleh anggota masyarakat untuk konsumsi lokal di daerah pedesaan, khususnya kawasan terpencil, seperti di lima desa di Sumba Timur ini.”

“Model teknis dan penjualan yang telah kami bangun di Sumba melalui proyek yang didanai MCC ini sangat memungkinkan untuk direplikasi dan ditingkatkan skalanya. Sistem-sistem yang dibangun melalui proyek ini merupakan terobosan baru dan contoh untuk upaya penyediaan listrik pedesaan di seluruh wilayah Indonesia dan di kawasan,” ujar Matthew Basinger, Direktur PT Anekatek Consultants, yang memimpin konsorsium pelaksana proyek.

Unduh siaran pers ini di sini.