SIARAN PERS

Embung Geomembran untuk Ketahanan Pangan

EMBUNG GEOMEMBRAN UNTUK KETAHANAN PANGAN

Ditayangkan : 21 Desember 2017

(Malinau) 21 Desember 2017 – Perubahan iklim menimbulkan sejumlah dampak yang langsung dirasakan masyarakat. Misalnya, hari hujan dan kering yang di luar musim dapat menyebabkan gagal panen. Untuk mengatasinya, diperlukan langkah yang tepat, antara lain dengan membangun embung geomembran, seperti yang dilakukan oleh Konsorsium InProSuLA di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, dengan pendanaan dari Hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia).

Pada 20 Desember 2017, embung berkapasitas 8.000 meter kubik air ini diresmikan oleh Bupati Malinau, Yansen Tipa Padan, didampingi oleh perwakilan Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat, tokoh masyarakat, dan InProSuLA.  

“Saya turut bahagia dengan hadirnya embung geomembran di Kabupaten kami dan berharap ini dapat mencegah gagal panen di Malinau. Capaian–capaian ini turut berkontribusi terhadap program percepatan peningkatan produksi pangan Kabupaten Malinau, mendorong percepatan Gerakan Desa Membangun (GERDEMA), serta mendorong peningkatan perekonomian rumah tangga petani di pedesaan,” ujar Bupati Malinau, Yansen Tipa Padan.

Pembangunan embung atau penampungan air itu adalah satu dari empat hasil kegiatan InProSuLa yang didukung MCA-Indonesia. Tiga kegiatan lainnya ialah peningkatan produktivitas tanaman padi, yang berhasil mendongkrak Gabah Kering Panen hingga 600 kg per hektar di lahan seluas 481 hektar milik 3.900 petani; peningkatan pendapatan 586 keluarga melalui usaha olahan pangan dan kerajinan rotan; serta penguatan kelembagaan masyarakat yang telah memicu pembentukan dan operasional 94 kelompok tani dan 21 kelompok wanita tani di 8 desa.

“MCA-Indonesia melalui Hibah PSDABM berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat melalui praktik-praktik ramah lingkungan. Embung geomembran merupakan upaya nyata untuk mendorong peningkatan produksi panen petani Malinau dan menjaga ketahanan pangan. Selain itu, embung ini dirancang menjadi model konservasi terpadu wisata wanatani, sehingga bisa dikunjungi wisatawan sekaligus dipelajari oleh pihak lain yang ingin mereplikasinya,” kata Tri Nugroho, Wakil Direktur PSDABM MCA-Indonesia.

Keberlanjutan proyek ini memerlukan keterlibatan erat para pemangku kepentingan, baik masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu, peresmian dan penyerahan embung ini juga diiringi dengan pertemuan sinergis para pihak dari tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Kementerian terkait beserta organisasi non pemerintah dan masyarakat.

“Pertemuan ini diharapkan menghasilkan identifikasi peran dan rencana tindak lanjut para pihak untuk keberlanjutan kegiatan selepas proyek InProSuLa berakhir. Sehingga, masyarakat Malinau akan terus mendapatkan manfaat,” ujar Direktur InProSuLa, P. Sarijo.

Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut. Dinas Pertanian Sulawesi Barat berkomitmen menjadikan lahan tangkapan irigasi embung seluas 7 hektare sebagai penangkaran benih padi unggul lokal. Pemerintah Kabupaten Malinau akan mengadakan aliran listrik untuk penerangan wisma tani dan lokasi embung, serta membangun pipa jaringan irigasi tersier pembagi dari sumber embung. Sementara, Kementerian Pertanian akan menjadikan desa Pulau Sapi sebagai model desa kawasan pertanian organik.

Unduh Siaran Pers ini di sini.

 

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

MCA-Indonesia: Mia Fitri, Communications and Outreach Director, mia.fitri@mca-indonesia.go.id