SIARAN PERS

1,2 MWp Listrik Bersih untuk Ekonomi Produktif di Berau

1,2 MWP LISTRIK BERSIH UNTUK EKONOMI PRODUKTIF DI BERAU

Ditayangkan : 26 April 2018

(Berau) 26 April 2018 – Masyarakat di tiga desa di Berau, Kalimantan Timur, yakni desa Long Beliu, Merabu, dan Teluk Sumbang kini dapat menikmati listrik 24 jam dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Hari ini, Wakil Bupati Berau Agus Tantomo dan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Ramadhan meresmikan pembangkit listrik energi bersih tersebut bersama perwakilan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/BAPPENAS), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Ketiga PLTS berkapasitas total 1,2 MWp dan satu PLTMH berkapasitas 30 kW ini akan mengalirkan listrik untuk 400 rumah dan 41 fasilitas umum.

Pembangunan PLTS dan PLTMH tersebut didanai oleh Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia), lembaga wali amanat yang dibentuk oleh BAPPENAS untuk mengelola Hibah Compact dari Millennium Challenge Corporation (MCC), lembaga Pemerintah Amerika Serikat.

Wakil Direktur Energi Terbarukan Berbasis Masyarakat MCA-Indonesia, Verania Andria mengatakan, “Listrik menyediakan akses penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menggerakkan ekonomi desa. Kami berharap warga desa akan terpacu untuk memulai kegiatan produktif yang akan meningkatkan pendapatan rumah tangga. PLTS ini merupakan bentuk kontribusi MCA-Indonesia untuk meningkatkan ekonomi sekaligus mengurangi emisi karbon.”

Sebelum adanya listrik dari PLTS, masyarakat mengandalkan generator diesel (genset) komunal. Namun, bahan bakar berupa minyak solar cukup mahal dan tidak ramah lingkungan. Selain itu, genset komunal hanya beroperasi sekitar 4 jam sehari, yakni pukul 18.00-22.00.

PT Akuo Energy Indonesia, pelaksana pembangunan PLTS, telah memberikan pelatihan teknis dasar kepada masyarakat untuk mengoperasikan dan merawat PLTS ini.  Nantinya, PLTS akan dikelola dan dimiliki bersama oleh masyarakat dan PT Akuo Energy Indonesia melalui perusahaan listrik desa. Dalam perusahaan tersebut, masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memiliki saham mayoritas sebesar 51%.

Saat ini, masyarakat di tiga desa tersebut telah merintis kegiatan ekowisata, kerajinan tangan, dan usaha makanan. PT Akuo Energy Indonesia turut melatih masyarakat di bidang pengelolaan usaha, administrasi, dan pariwisata. Masuknya listrik diharapkan akan mendongkrak kegiatan ekonomi produktif di ketiga desa.

“Kami berharap PLTS ini dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang dan dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan produktif, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Proyek ini kami harapkan juga dapat menjadi percontohan untuk pengembangan daerah lainnya di Indonesia. Ke depannya, Akuo Energy sangat siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar I Komang Adi Aswantara, Direktur Proyek PT Akuo Energy Indonesia.

Kepemilikan masyarakat dalam pengembangan energi terbarukan merupakan inovasi yang dihasilkan Hibah Compact untuk mengatasi tantangan elektrifikasi di desa-desa terpencil di Indonesia. Selain di Kalimantan Timur, Hibah Compact telah menyediakan total 12,3 MW listrik dari energi surya, hidro dan biomassa di berbagai pelosok negeri, melatih 40.000 orang untuk mengoperasikan listrik energi terbarukan, serta memfasilitasi terbentuknya 11 perusahaan listrik desa di lima provinsi.

Unduh siaran pers ini di sini.