KABAR KAMI

Batas Desa Terpetakan, Potensi Mamuju Siap Dikembangkan

BATAS DESA TERPETAKAN, POTENSI MAMUJU SIAP DIKEMBANGKAN

Mamuju – Penetapan dan penegasan batas desa merupakan dasar dari pemahaman pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan potensi suatu wilayah. Untuk itu, melalui Pemetaan dan Perencanaan Partisipatif (PMaP), MCA-Indonesia memfasilitasi penetapan dan penegasan batas sejumlah desa di Kabupaten Mamuju. Pada 18 Mei 2017, hasilnya resmi diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju.

Kepala Bidang Bina Pemerintahan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Mamuju, Muhammad Fauzan Basir, menuturkan, “Ini merupakan satu-satunya model di mana masyarakat mengambil bagian yang utuh dalam menetapkan batas desanya. Sehingga, pemerintah desa dan masyarakat bisa mendapatkan peta batas desa yang jelas, baik di atas peta maupun di lapangan.”

PMaP di Sulawesi Barat telah berhasil melaksanakan pemetaan dan perencanaan partisipatif di Kabupaten Mamuju dan Mamasa. Saat ini, kompilasi data geospasial dan rencana tata ruang telah disusun di tingkat kabupaten. Bupati Mamuju juga telah menandatangani Keputusan tentang Batas Desa di Kecamatan Bonehau sebanyak sembilan desa dan Kecamatan Kalumpang sebanyak 13 desa. Pelatihan dasar Sistem Informasi Geografis (SIG), lokakarya penataan ruang, pelatihan Sistem Manajemen Informasi (SMI) pun sudah dilakukan untuk membekali pihak pemerintah dan masyarakat yang akan meneruskan kegiatan. Adapun lokakarya untuk memfasilitasi proses rekonsiliasi data-data wilayah tengah dilakukan.

“Pemetaan batas desa secara partisipatif ini merupakan bagian dari standar nasional Kebijakan Satu Peta, yang penting agar perencanaan pembangunan wilayah bisa akurat,” ujar Wakil Direktur Eksekutif MCA-Indonesia Lukas Adyhakso. “Semoga kegiatan ini bisa direplikasi sebagai contoh baik di wilayah lain demi  kegiatan pembangunan yang lebih merata.”

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, mengatakan kegiatan-kegiatan MCA-Indonesia sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat. Data pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2017 menunjukkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,38%, sementara pada periode yang sama di tahun 2016 hanya 6,63%.

Ia optimistis kemitraan yang diinisiasi MCA-Indonesia seperti dalam bidang pertanian berkelanjutan (budidaya kakao), energi terbarukan dan pengetahuan hijau dapat terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  “Program-program yang hampir selesai hendaknya dioptimalkan, dicatat pembelajaran serta rekomendasinya untuk didiskusikan keberlanjutannya di antara Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan pihak lainnya,” ucapnya. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)