KABAR KAMI

Menangguk Untung dari Bioslurry

MENANGGUK UNTUNG DARI BIOSLURRY

Ditayangkan : 16 Juni 2017

Waingapu - Bioslurry atau ampas biogas kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk kompos organik yang menguntungkan bagi petani. Selain aman dari hama, hasil panen pun bisa jauh lebih banyak ketimbang menggunakan pupuk kimia. Manfaat dan kiat-kiat merintis usaha bioslurry merupakan topik pembahasan utama dalam kegiatan “Pelatihan Kewirausahaan Bioslurry” yang dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) pada tanggal 5-6 Juni 2017 di Waingapu, Nusa Tenggara Timur. YRE adalah anggota Konsorsium Hivos yang merupakan salah satu penerima manfaat Hibah Pengetahuan Hijau dari MCA-Indonesia. 

Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan para pelaku bisnis bioslurry maupun calon penerima insentif dari Program GADING (Gathering and Dissemination of Information and Green Knowledge for a Sustainable Integrated Farming Workforce) Yayasan Rumah Energi untuk menjalankan berbagai bisnis berbasis bioslurry, mulai dari pengembangan kolam lemna, kolam ikan sampai penjualan bioslurry. Sebanyak 35 orang peserta dari Sumba Timur menghadiri pelatihan ini.

Bernardus Missa, salah seorang pelaku bisnis bioslurry mengatakan, “Tahun ini di Lewa panen kami sangat sedikit karena serangan hama tikus dan keong mas. Lahan sawah satu hektar hanya menghasilkan 7 -10 karung atau setara 700-1000 kilogram. Namun, di sawah saya yang memakai bioslurry, tidak terkena serangan hama sama sekali sehingga saya bisa panen sampai 40 karung atau 4000 kilogram.”

Selain menghadirkan narasumber pelaku bisnis bioslurry, pelatihan ini juga mendatangkan perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumba Timur, serta tim pengajar dari Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Studi Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba untuk memfasilitasi.

“Kami berkolaborasi dengan perguruan tinggi lokal karena mereka berkompeten untuk membagikan sejumlah pengetahuan terkait pengembangan bisnis bioslurry ini bagi petani. Sebelumnya tim ini juga telah dilibatkan dalam kegiatan penyusunan proposal bisnis bagi para pelaku bisnis biolsurry maupun calon penerima insentif dari Program GADING,” ujar Kornelis K Lidjang selaku Organic Fertilizer Officer (OFO) dari YRE menjelaskan.

Peluang bisnis bioslurry turut didukung kebijakan Kementerian Pertanian tentang penggunaan pupuk 5:3:2, yakni penggunaan tiap 500 kilogram pupuk organik dimbangi oleh 300 kilogram pupuk kimia dan 200 kilogram pupuk urea. Pupuk organik yang dimaksud bisa merupakan kompos, bokashi, maupun bioslurry.

Di penghujung pelatihan, peserta dibekali pengetahuan tentang kewirausahaan, konsep pemasaran, pembukuan dan perencanaan usaha serta simulasi pengisian formulir perencanaan usaha.

Tak hanya peserta pelatihan yang mendapat manfaat. Para fasilitator dari UNKRISWINA pun mengatakan kolaborasi ini membawa banyak inspirasi untuk penelitian tentang bioslurry di perguruan tinggi dan upaya untuk terus menyebarkan pengetahuan hijau. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)

Disadur dari http://www.pengetahuanhijau.com/berita/datangkan-uang-ke-rumah-dengan-bioslurry