KABAR KAMI

Melestarikan Ikat, Menenun Masa Depan Masyarakat

MELESTARIKAN IKAT, MENENUN MASA DEPAN MASYARAKAT

Ditayangkan : 29 Juni 2017

Nusa Tenggara Timur -  Keindahan tenun ikat menyatu dalam kehidupan masyarakat di pulau-pulau Nusa Tenggara Timur (NTT). Warna-warni tenun ikat selalu hadir dalam berbagai ritual adat, seperti kelahiran dan perkawinan. Sebagai salah satu destinasi wisata andalan, tenun ikat juga turut menopang sektor pariwisata di NTT.

Salah satu tantangan dalam melestarikan tenun ikat adalah kurangnya sarana untuk berbagi pengetahuan kepada generasi penenun muda.  Selama ini, keterampilan tenun hanya diwariskan oleh para mama kepada perempuan yang lebih muda melalui cerita dari mulut ke mulut. Keterampilan tenun ikat belum menjadi bagian dari pendidikan formal di NTT.  Hal ini sangat disayangkan mengingat peran penting tenun ikat dalam mensejahterakan masyarakat, khususnya para perempuan penenun.

Untuk itu, Konsorsium Samdhana Institute bekerja di Sumba Timur lewat proyek “Membangun Kemakmuran Hijau Melalui Pengembangan Ekonomi Jalur Tenun Berpewarna Alami dan Produk Hijau dari Hasil Bumi Lainnya di Sumba Timur”. Proyek ini didanai oleh Hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat, bagian dari Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia. Ada tiga aspek utama yang menjadi fokus proyek, yaitu merawat alam, mensejahterakan masyarakat, dan mencintai budaya.

“Kita fokus pada pengembangan pewarna alam dalam proyek ini sebagai bagian dari menjadikan Sumba Timur sebagai destinasi wisata. Maka penting untuk melihat pariwisata di Sumba Timur ini sebagai sesuatu yang sifatnya holistik, baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan sistem pendukungnya,” ujar Anissa Yuniar, Manajer Program di Yayasan Sekar Kawung.

Upaya kongkret untuk melestarikan tenun ikat ditempuh melalui jalur sekolah formal, yakni penyusunan bahan ajar muatan lokal (mulok) tentang keterampilan tenun ikat. Buku pengajaran tenun ikat telah rampung disusun. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 8-9 Juni 2017, Yayasan Sekar Kawung telah melaksanakan kegiatan “Uji Keterbacaan Buku Mulok Tenun Ikat”, difasilitasi oleh Yanti Dewi Purwanti dari Kementerian Pendidikan RI, dan Yandri dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi NTT.

Proyek ini juga telah menghasilkan 27 tahap pembuatan tenun ikat yang diajarkan melalui kelas-kelas magang yang diikuti para penenun muda setiap hari Senin sampai Jumat selama satu jam per hari. Para penenun muda pun diajarkan untuk menggunakan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan.

“Yang hendak kita wariskan ini bukan sekadar pengetahuan tentang pembuatan tenun, tetapi juga filosofi dan nilai di balik proses maupun produk yang dihasilkan. Dan yang paling penting adalah tentang mengapa harus menggunakan perwarna alam. Kita boleh berpikir tentang kesejahteraan secara ekonomi, tetapi jika itu merusak lingkungan maka apa lagi yang mau diwariskan,” ujar Kornelis, Ketua Kelompok Tenun Paluanda Lama Hamu.

Para guru dan kepala sekolah sangat mendukung penyusunan bahan ajar tenun ikat ini. Bahkan, SD Praikundu akan mulai mengadakan peralatan tenun pada semester mendatang.

“Upaya Yayasan Sekar Kawung yang mengangkat kembali tenun ikat benar-benar sesuatu yang luar biasa. Kami sangat merespons kegiatan untuk mendidik anak-anak agar mengenal kembali budaya Sumba dengan lebih baik. Jika buku bacaan ini sudah ada, maka bisa kami sinergikan juga dengan buku mulok bahasa lokal yang anggarannya sudah kami alokasikan, agar bisa dikerjakan tahun depan,” ujar Kepala Bidang Pembinaan SD, Dinas Pendidikan Sumba Timur, Dominggus Tamu Ama. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)

Disadur dari http://www.pengetahuanhijau.com/berita/buku-mulok-tenun-ikat-inspirasi-buku-bacaan-untuk-dokumentasi-kearifan-lokal dan www.pengetahuanhijau.com/berita/mewariskan-dan-melestarikan-sejarah-tenun-ikat-bagi-anak-cucu-lewat-buku.