KABAR KAMI

Menyalakan Kehidupan di Karampuang

MENYALAKAN KEHIDUPAN DI KARAMPUANG

Ditayangkan : 31 Mei 2017

Anugrah tersenyum masam saat ditanya tentang listrik di kampung halamannya, yaitu Pulau Karampuang di Mamuju, Sulawesi Barat. “Tersiksa sebenarnya, tetapi sudah terbiasa,” kata siswi SMU itu pada hari Jumat, 19 Mei 2017. Anugrah berkali-kali merasakan mati lampu saat belajar di malam hari.

Ibu Anugrah, Derma (53 tahun), kadang terpaksa membuang lauk ikan karena tak ada kulkas untuk menyimpannya. Baginya, itu mubazir karena ia hanya menjatahkan makan ikan dua kali seminggu demi berhemat. Es batu harus dibeli di Kota Mamuju yang berjarak 20 menit naik perahu. Kadang ia tak sempat membeli es. Sementara, bagi seorang pekerja rumah tangga (PRT) sepertinya, jam kerja di empat rumah di Kota Mamuju tidak menentu.

Saat ini, bukannya tak ada listrik sama sekali di Pulau Karampuang. Listrik ada, namun hanya jam 6 petang hingga 10 malam. Terkadang, listrik pun mati mendadak di tengah aktivitas. Pasokan listrik masih bergantung pada generator diesel berkapasitas 150 kW yang terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 3.000 orang penduduk. Listrik yang dihasilkan pun tak ramah lingkungan dan tak murah. Untuk fasilitas yang terbatas itu, iuran listrik dipukul rata Rp 70.000 per rumah tiap bulan.  

Maka, mendengar listrik 24 jam akan masuk desa, warga pun bergembira. “Nanti kalau listrik sudah masuk, saya akan titip lauk pauk ke tetangga yang punya kulkas,” kata Derma seusai acara peresmian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Karampuang.

Proyek ini digagas oleh PT Sky Energy, mitra penerima Hibah Energi Terbarukan untuk Komunitas MCA-Indonesia. Hibah tersebut disalurkan kepada Sky Energy setelah melalui proses seleksi ketat. Tujuan hibah ini ialah untuk mempercepat akses listrik bagi masyarakat di pedesaan melalui pembangunan fasilitas dan jaringan listrik dari energi terbarukan. Proyek ini akan menyediakan PLTS berkapasitas 600 kWp yang akan mengalirkan listrik bagi seluruh penduduk Karampuang dan fasilitas umum.

“Saya sudah berkeliling ke berbagai daerah melihat proyek seperti ini. Kebanyakan proyek hanya dikelola setahun, selanjutnya tidak dirawat. Proyek MCA-Indonesia ini berbeda karena kemitraan dengan masyarakat benar-benar dibangun. Ini pengalaman baru yang berharga bagi kami selaku pihak swasta,” ujar Direktur PT Sky Energy Hengky Loa.

Hibah dari MCA-Indonesia ini mensyaratkan keterlibatan penuh masyarakat demi menjaga keberlanjutan proyek. Sebagian besar tenaga konstruksi yang direkrut adalah penduduk Pulau Karampuang. Tak hanya itu, nantinya pengelolaan PLTS ini akan dilaksanakan oleh perusahaan listrik desa di mana 51% sahamnya dimiliki masyarakat dan 49% milik Sky Energy. Ini merupakan model pengelolaan yang diperkenalkan oleh MCA-Indonesia yang mengedepankan kerja sama swasta dan masyarakat. Tarif listrik pun telah dimusyawarahkan bersama dengan warga untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan operasional dan perawatan PLTS. Nantinya, pembayaran listrik tidak akan dipukul rata, melainkan disesuaikan pemakaian per rumah menggunakan sistem prabayar.

“Proyek ini memang bukan sekadar konstruksi fisik. Kemitraan antara MCA-Indonesia, pemerintah, pihak swasta dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan,” ujar Wakil Direktur Eksekutif MCA-Indonesia Lukas Adhyaksa. “Sejak awal, masyarakat terlibat dalam musyawarah dan proses pembangunan. Harapannya, ini akan memperbesar rasa kepemilikan dan keinginan mereka untuk menjadi bagian dari proyek dan ketika nanti selesai terus merawat keberlanjutannya.”

Masyarakat tidak akan dilepas begitu saja. Sky Energy akan mendampingi selama 20 tahun untuk mengajarkan cara mengatasi masalah teknis PLTS dan perawatan hingga masyarakat mampu mengelolanya secara mandiri.

Bagi MCA-Indonesia, membawa terang ke Karampuang adalah sasaran jangka pendek. Dalam jangka panjang, listrik diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar sepakat. Ia mengatakan sudah saatnya memajukan dan membangun generasi baru Pulau Karampuang. “Perempuan harus maju, bersekolah dan bisa melakukan usaha produktif seperti menyulam, beternak dan lainnya. Lapangan pekerjaan harus dikembangkan, tak hanya melaut,” ujarnya.  Dengan keindahan alam bawah laut yang dimilikinya, Pulau Karampuang memang sangat berpotensi menjadi destinasi ekowisata.

Tujuh bulan lagi, yakni Desember 2017, keempat PLTS di Pulau Karampuang dijadwalkan rampung dibangun. Bahkan, tim di lapangan tengah mengejar target utama agar salah satu PLTS mulai beroperasi tepat pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2017.  Saatnya bergegas demi menyalakan kehidupan di Karampuang. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)