KABAR KAMI

Melatih Nelayan Mengelola Usaha Perikanan Tangkap

MELATIH NELAYAN MENGELOLA USAHA PERIKANAN TANGKAP

Ditayangkan : 16 Agustus 2017

Sumba Tengah – Sektor kelautan dan perikanan berpotensi untuk dikelola secara berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi keunggulan kompetitif untuk menggerakkan perekonomian daerah. Salah satu usaha bidang kelautan dan perikanan yang dapat diupayakan di wilayah pesisir adalah usaha perikanan tangkap.

Perairan di Sumba Tengah merupakan habitat beragam ikan pelagis seperti tuna ekor kuning, cakalang, tenggiri sementara perairan dangkalnya kaya akan beragam ikan demersal seperti kerapu, kakap, dan lobster. Selama ini, sumber daya pesisir telah menunjang kebutuhan ekonomi dan gizi masyarakat di Sumba Tengah, khususnya Desa Lenang di Kecamatan Umbu Ratu Nggay di mana 52% warganya berprofesi sebagai nelayan.

Namun, potensi sumber daya laut yang melimpah belum dikelola secara optimal dan hasil tangkapan ikan pun sebagian besar masih untuk konsumsi keluarga dan hanya sebagian kecil yang dijual.

Konsorsium Karbon Biru (Blue Carbon Consortium) didukung oleh MCA-Indonesia melaksanakan proyek Pengelolaan Pengetahuan Tata Kelola Sumber Daya Pesisir Rendah Emisi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan pengelolaan pengetahuan dan praktik cerdas seputar tata kelola sumberdaya pesisir yang rendah emisi.

Salah satu kegiatannya adalah pelatihan “Peningkatan Kapasitas Nelayan dalam Manajemen Usaha Perikanan Berbasis Pelestarian Ekosistem Pesisir” yang telah dilaksanakan pada 12 Juni 2017, dihadiri 30 nelayan dari Desa Lenang. Tujuan pelatihan ini adalah untuk membuka wawasan para nelayan dari sekadar mencari ikan di laut menjadi lebih produktif dalam mengelola usaha perikanan tangkap sebagai alternatif peningkatan kesejahteraan.

Di awal pelatihan, Arsyad Al Amin selaku pemateri memaparkan tiga kunci keberhasilan usaha perikanan, yakni teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan sumber daya alam (SDA).  Teknologi mencakup alat dan armada untuk menangkap ikan; SDM terdiri dari keterampilan nelayan mulai dari perencanaan hingga mengawetkan ikan, dan yang terpenting kelestarian SDA agar hasil laut dapat dinikmati secara berkelanjutan.

“Usaha perikanan yang ramah lingkungan harus diupayakan dengan tidak menggunakan cara dan alat yang dapat merusak ekosistem laut, seperti bahan peledak, beracun, dan alat tangkap trawl (pukat harimau). Alat-alat ini dapat meningkatkan hasil tangkapan, namun berdampak negatif untuk jangka panjang, yaitu merusak karang, ikan-ikan kecil dan biota laut lainnya,” ujar Arsyad Al Amin.

Nelayan juga dibekali pengetahuan manajemen usaha yang menekankan pentingnya kemampuan perencanaan dan pengelolaan usaha. Misalnya, Analisis Peluang Usaha seperti permintaan pasar, kondisi persaingan, biaya yang dibutuhkan untuk menangkap ikan dan bagaimana cara menghasilkan laba.

Pelatihan diakhiri dengan praktik pembuatan ‘bubu’ atau alat tangkap berupa jebakan yang tergolong ramah lingkungan. Semoga pelatihan ini menjadi awal dalam mengembangkan potensi nelayan dalam mengelola sumber daya pesisir. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)

Sumber: http://www.pengetahuanhijau.com/berita/nelayan-unggul-sebagai-tulang-punggung-ekonomi-maritim