KABAR KAMI

Menanamkan Kesadaran Kritis Perempuan, Para Pengelola Sumber Daya Alam

MENANAMKAN KESADARAN KRITIS PEREMPUAN, PARA PENGELOLA SUMBER DAYA ALAM

Ditayangkan : 10 Juli 2017

Ada banyak tantangan dalam mewujudkan kesetaraan perempuan dan laki-laki, tak terkecuali di bidang pengelolaan sumber daya alam. MCA-Indonesia berkomitmen mendorong inklusi sosial serta meningkatkan partisipasi perempuan dalam setiap proyeknya yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), MCA – Indonesia mendanai program “Optimasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kambanbiru, Karendi, dan Katewel melalui Aksi Konservasi Lingkungan dan Peningkatan Ekonomi Berbasis Masyarakat” yang dilaksanakan oleh Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT. Konsorsium ini terdiri dari Yayasan Wali Ati, Yayasan Harapan Sumba, Satu Visi, Koppesda, Pakta, Pelita Sumba, Waimaringi, dan Bengkel Appek.

Salah satu tujuan program ini adalah memperkuat kapasitas perempuan yang tinggal di 30 desa sepanjang aliran sungai, agar mereka memiliki kesadaran kritis untuk berpartisipasi aktif dalam mengelola sumber daya alam. Untuk itu, rangkaian upaya pengarusutamaan gender telah dilakukan, yang salah satunya dilaksanakan pada 29-30 Mei 2017 oleh Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT di Wisma Cendana, Sumba Timur.

Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dengan pengetahuan tentang kesetaraan gender dan hak-hak perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Peraturan-peraturan yang mendukung perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender juga dipaparkan oleh para fasilitator.

Pelatihan dibuka dengan mengkritisi pandangan umum bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang alamiah atau kodrati. Pandangan yang keliru ini berakar dari kesalahpahaman tentang kata ‘jenis kelamin’ dan ‘gender’. Jenis kelamin adalah aspek biologis atau alami. Namun, gender atau peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupannya bukanlah faktor alami karena merupakan hasil konstruksi sosial budaya suatu masyarakat. 

Perbedaan peran perempuan dan laki-laki sesungguhnya bukan masalah, asalkan tidak melahirkan ketidakadilan gender. Akan tetapi, sistem masyarakat yang patriarkal atau memandang rendah perempuan dapat merugikan perempuan dan juga laki-laki.

Salah satu bentuk ketidakadilan gender adalah beban ganda yang dihadapi perempuan yang bekerja di luar rumah. Tugas domestik seperti mengurus anak dan membersihkan rumah kerap dibebankan pada perempuan saja. Sehingga, perempuan yang bekerja di luar rumah menghadapi beban ganda jika tidak mendapat dukungan pasangan atau keluarga untuk mengerjakan tugas domestik.

“Jika perempuan hanya paham tentang urusan domestik seperti cara mencuci pakaian dan membersihkan rumah, nilai-nilai seperti apa yang mau diwariskan kepada generasi selanjutnya? Perempuan perlu diperkuat agar bisa berperan setara di ranah domestik, sosial, maupun produksi. Laki-laki perlu diberi pemahaman agar mendukung pemenuhan hak perempuan,” ujar Deby Rambu Kausatu, aktivis isu perempuan yang memfasilitasi pelatihan.

Faktor-faktor penyebab ketidakadilan gender diidentifikasi oleh para peserta, yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia, program pemberdayaan yang tidak berpihak pada perempuan, serta kondisi sosial budaya dan ekonomi. Selain itu, peserta juga memetakan jam kerja perempuan sehari-hari dan mendapati bahwa rata-rata perempuan menghabiskan waktu untuk sektor domestik selama 6-8 jam/hari, untuk sektor produksi selama 1-3 jam/hari dan sektor sosial 1-2 jam/hari.

Peserta laki-laki turut mengakui bahwa pembagian peran domestik untuk laki-laki memang sangat minim selama ini. Mereka berjanji akan lebih adil dalam pembagian peran dengan perempuan, misalnya bersedia untuk melaksanakan tugas mengasuh anak.

Di akhir pelatihan, para peserta yang mewakili kelompok hortikultur, silvikultur dan intensifikasi ternak tersebut merancang  kegiatan untuk  meningkatkan keterlibatan mereka  dalam program, serta meningkatkan kerja sama antarperempuan sebagai agen perubahan di desa masing-masing. (Intan Febriani/MCA-Indonesia)

Disadur dari http://www.pengetahuanhijau.com/berita/membangun-kesadaran-kritis-untuk-pemenuhan-hak-hak-perempuan