KABAR KAMI

Langkah Besar dari Dusun Kecil Menuju Desa Stop Buang Air Sembarangan

LANGKAH BESAR DARI DUSUN KECIL MENUJU DESA STOP BUANG AIR SEMBARANGAN

Ditayangkan : 23 Agustus 2017

Tembaga – Perubahan yang besar dimulai dari langkah yang kecil namun nyata. Di sebuah dusun terpencil di ujung Desa Tembaga, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, perubahan nyata ini sudah mulai terlihat.

Kabupaten Sekadau adalah salah satu dari sembilan kabupaten wilayah Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mencegah Stanting (PKGBM) MCA-Indonesia di Kalimantan Barat. Di Kecamatan Nanga Mahap, tepatnya Desa Tembaga, terdapat RT 07 Barobut yang merupakan permukiman paling ujung di desa tersebut.

“Barobut” yang berarti “rebut atau diperebutkan”, adalah nama yang indah namun tak seindah jalan menuju daerah tersebut. Untuk menuju ke sana, penduduk dan pengunjung harus melalui jalan sempit yang rusak parah dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Di beberapa titik, bilah-bilah papan diletakkan untuk menutupi jalanan yang berlubang.

Ada 55 keluarga tinggal di RT Barobut. Rata-rata pendidikan masyarakat berhenti di bangku Sekolah Dasar (SD). Akses pendidikan relatif sulit, karena satu-satunya fasilitas pendidikan yang ada hanya SD, yang kini malah tutup karena tidak ada pengajar. Maka, anak-anak yang ingin sekolah harus berjalan selama satu jam ke desa tetangga.

Rendahnya tingkat pendidikan menyumbang pada minimnya pengetahuan akan perilaku hidup yang sehat dan higienis. Dulu, masyarakat RT ini sebagian besar terbiasa buang air di sungai. Padahal, sungai itu merupakan sumber air untuk berbagai keperluan penduduk, termasuk mencuci pakaian dan mandi. Mereka juga kerap buang air di sembarang tempat seperti sawah, hutan, dan kebun di sekitar rumah.

Ini menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan, khususnya Puskesmas, sebagai ujung tombak pelayanan dasar untuk mengubah perilaku masyarakat agar sadar akan pentingnya hidup bersih dan sehat.

Mengubah perilaku masyarakat tak semudah membalikkan telapak tangan. Selama enam bulan sejak Februari 2017, Puskesmas Nanga Mahap melalui Tim Pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang beranggotakan sanitarian dan bidan desa tanpa kenal lelah terus datang ke Barobut untuk berbagi pengetahuan tentang perilaku hidup sehat, seraya memotivasi dan memberi dukungan kepada masyarakat. Ini semua dilakukan demi meningkatkan status kesehatan di RT Barobut.

Tahapan yang dilalui Tim Pemicuan, sesuai dengan teori perubahan psikolog Carl Rogers, ialah membangkitkan kesadaran masyarakat, agar mereka mempertimbangkan pentingnya hidup sehat, mencoba, hingga akhirnya mencapai tahap mengadopsi perilaku baru.

Di tahap awal, Tim Pemicuan melakukan pendekatan dengan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup sehat. Lambat laun, masyarakat mulai menyadari bahwa masyarakat bisa terhindar dari berbagai penyakit jika kebersihan lingkungan dijaga. Salah satunya, dengan tidak buang air besar sembarangan dan setiap rumah memiliki jamban sehat.

Masyarakat Barobut sempat menolak membangun jamban sehat karena sudah telanjur terbiasa buang air sembarangan. Melalui pendekatan kepada para tokoh yang dituakan masyarakat, Tim Pemicuan dapat meyakinkan penduduk Barobut bahwa perilaku buang air di sembarang tempat itu salah. Jika mereka buang air di sungai atau hutan pada malam hari, risikonya ialah digigit binatang buas seperti ular. Kebiasaan itu juga membuat mereka rentan sakit, yang akan menyebabkan pengeluaran bertambah untuk pengobatan, sekaligus mengurangi pemasukan karena tak bisa bekerja.

Akhirnya, RT Barobut pada tanggal 22 Juni 2017 mendeklarasikan dirinya menjadi RT Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS). Meski hanya deklarasi di tingkat RT, ini menjadi bukti bahwa adanya kerja keras, niat baik, dan dukungan dari berbagai pihak, wilayah terpencil seperti RT Barobut mampu menjadi RT pertama di wilayah PKGBM di Kabupaten Sekadau yang mendeklarasikan diri menjadi RT SBS.

Kepala Puskesmas Nanga Mahap, Antonius Bernath, menyambut gembira deklarasi ini. “Saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada RT 07 Barobut yang bisa Deklarasi SBS. Walaupun RT ini di daerah hulu yang terpencil, tetapi bisa menjadi contoh praktik baik untuk RT, Dusun dan Desa lainya yang ada di Kabupaten Sekadau.”

Adapun Kepala Dusun Bangau RT Barobut mengatakan, "Dulu kami kira harus punya uang yang banyak baru bisa punya jamban. Ternyata dengan modal di bawah Rp 1 juta kami bisa bangun jamban dan tidak perlu harus susah payah pergi kesungai untuk buang air besar lagi."

Untuk mengatasi masalah stanting, intervensi gizi saja memang belum cukup. Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena sejak janin hingga anak berusia dua tahun adalah masa emas pertumbuhan bagi anak. Paparan terus menerus terhadap berbagai infeksi karena lingkungan yang kotor berkontribusi pada kualitas kesehatan dan gizi anak. Maka, PKGBM MCA-Indonesia juga melaksanakan intervensi sanitasi seperti pemicuan STBM. (Fadly, Intan Febriani/MCA-Indonesia)